Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman Nasional Kerinci Seblat TNKS merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Kawasan pelestarian alamnya dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di peraiaran yang menpunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Secara geografis TNKS terletak memanjang dari barat laut ke tenggara di tengah-tengah Pegunungan Bukit Barisan Sumatera pada koordinat 100° 31’18”E-102° 44’01”E dan 1°07’13”13S – 1°26’14”S, sedangkan secara administratif kawasan TNKS terletak di 4 provinsi dan 15 Kabupaten kota yang terdiri dari:

  1. Provinsi Jambi di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Kabupaten Merangin dan Kabupaten Bungo, Kabupaten Sarolangun.
  2. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Solok dan Kabupaten Dhamasraya.
  3. Provinsi Bengukulu di Kab. Rejang Lebong, Kab.Lebong, Kab.Bengukulu Utara dan Kab.Muko-Muko.
  4. Provinsi Sumatera Selatan di Kab.Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau

Kondisi Iklim Taman Nasional Kerinci Seblat bervariasi menurut topografi, tetapi secara umum kawasan TNKS tergolong tipe A (Basah) dalam klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Rata-rata curah hujan tahunan adalah 2.991 mm, dengan bulan kering kuran dari dua bulan per tahunnya. Rata-rata temperatur cuaca diantara 10°-28° Celcius. Kelembaban relatif udara adalah antara 77% – 92%.

Sejarah Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat

  1. Government Bensluit (GB) No.42 tanggal 3 Juni 1921 jo Keputusan Menteri Pertanian No.805/Kpts/Um/11/1980 tanggal 5 November 1980, Kelompok hutan Gunung Indrapura dan Bayang di Kab. Dati II Solok dan Pesisir Selatan Provinsi Dati I Sumatera Barat, seluas 205.550 Ha telah ditujunjuk menjadi kawasan Cagar ALam
  2. GB No. 27 tanggal 9 Desember 1929 jo Keputusan Menteri Pertanian No.460/Kpts/Um/7/1978, Kelompok hutan Vick Can Indrapura dan Bukit Tapan di Kab. Dati II Kerinci dan Bungo Tebo Provinsi Dati I Jambi, seluas 279.550 Ha telah ditunjuk menjadi kawasan Cagar Alam
  3. Keputusan Menteri Pertanian No. 424/Kpts/Um/6/1979, Kelompok hutan Rawas Ulu Lakitan Kab dati II Musi Rawas Prov. Dati I Sumatera Selatan, seluas 281.120 Ha telah ditunjuk menjadi kawasan suaka marga satwa
  4. Keputusan Menteri Pertanian No.399/Kpts/Um/6/1980 tanggal 7 Juni 1980 jo Keputusan Menteri Pertanian No.443/Kpts/Um/5/1981 tanggal 21 Mei 1981, Kelompok Hutan Bukit Kayu Embun dan Bukit Gedang di Kab. Dati II Bengkulu Utara dan Rejang Lebong Prov. Dati I Bengkulu, seluas 154.750 Ha, telah ditunjuk menjadi kawasasan Suaka Marga Satwa
  5. Gb No.36 tanggal 31 Januari 1921, Gb No.42 tanggal 31 Januari 1921, Gb No.37 tanggal 16 Februari 1921, kelompok hutan Batanghari I, Lubuk Nyiur dan Kambang di Kab. Dati II Solok dan Pesisir Selatan Prov. Sumatera Barat, seluas 129.580 Ha dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 45/Kpts-II/1987 tanggal 12 Februari 1987, kelompok hutan Merangin Alai di Kab Dati II Sarolangun Bangko Prov. Dati I Jambi, seluas 24.287 Ha dan dengan Keputusan Menteri Kehutanan No.383/Kpts-II/1985 tanggal 27 Desember 1985, Kelompok hutan Bukit Reges, Hulu Sulup, Bukit Kelam Bukit Pedinding, Air Selagan, Hulu Air Ipuh, Bukit Lekat dan Air Seblat di Kab Dati II Rejang Lebong dan Bengkulu Utara Prov. Dati I Bengkulu seluas 159.420 Ha telah ditunjuk menjadi kawasan Hutan Lindung.
  6. Gb. No 28 tanggal 26 April 1921, Gb No.42 tanggal 8 Juni 1921, GB No.37 tanggal 16 Februari 1932, Kelompok Hutan Sangir, Jujuhan dan Kambang Kab Dati II Solok, Sawah Lunto/Sijunjung dan Pesisir Selatan Prov Dati I Sumatera Barat, seluas 40.800 Ha dan Keputusan Menteri Kehutanan No.46/Kpts-II.1987 tanggal 12 Februari 1987, kelompok hutan Merangin Alai dan Ketalo Singkut di Kab Dati II Bungo Tebo dan Sarolangun Bangko, seluas 36.321 Ha, telah ditunjuk menjadi kawasan Hutan Produksi Terbats/Tetap.
  7. Pernyataan Menteri Pertanian No.736/Mentan/X/1981, menyatakan kawasan Suaka Alam Provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu menjadi TNKS.
  8. Kesepakatan Rapat Koordinasi Lembaga terkait di daerah yaitu: Bappeda, Kanwil Badan Pertanahan Nasional, Kanwil Departemen Pertanian, Kanwil Departemen Kehutanan, dan DPRD Prov. Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu tanggal 31 Juli 1992 serta hasil rasionalisasi rapat Bappenas tanggal 20 Agustus 1992, luas kawasan yang direncanakan dan perlu dirubah fungsi menjadi taman nasional adalah Prov. Dati I Sumatera Barat Seluas ± 353.780 Ha, Di Prov. Dati I Jambi seluas ± 422.190 Ha ditambah APL seluas ± 4.689 Ha, di Prov Dati I Sumatera Selatan seluas ± 281.120 Ha dan di Prov. Dati I Bengkulu seluas ± 310.910 Ha.
  9. Surat Keputusan Menteri Kehutanan , SK. No.192/Kpts-II/1996, tentang Perubahan Fungsi dan Penunjukan kawasan TNKS seluas 1.386.000 Ha.
  10. Keputusan Menteri Kehutanan N0.380/Kpts-II/1998, tentang Penetapan Kelompok Hutan TNKS di Prov Sumatera Barat seluas 348.125,10 Ha.
  11. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.46/Kpts/VII-3/1999, tentan Penetapan Kelompok Hutan TNKS di Prov. Sumatera Selatan seluas 250.613 Ha.
  12. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.200/Kpts-II/1999 tentang Penetapan Kelompok Hutan TNKS di Prov Jambi seluas 436.036,767 Ha.
  13. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.901/Kpts-II/1999, tentang Penetapan Kawasan TNKS seluas 1.375.349.867 Ha.
  14. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.420/Menhut-II/2004, tentang Perubahan Fungsi dan Penunjukan Kawasan Hutan Sipurakk Hook Menjadi kawasan TNKS seluas 14.160 Ha.

Kondisi Geologi

Sebagian besar wilayah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki jenih tanah podsol yang relatif subur dan rawan erosi. Kondisi Topografi dan tanah tersebut menunjukkan bahwa TNKS memiliki peran penting untuk konservasi tanah dan air. TNKS merupakan daerah tangkapan air bagi sungai-sungai besar di 4 (empat) provinsi. Sungai yang terpanjang adalah Batanghari Jambi, Musi di Sumatera Selatan, Ketahun di Bengkulu dan sungai-sungai disepanjang pantai barat di Sumatera Barat.

Topografi dan Kelerengan

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat berada pada ketinggian 500-3.805 m dpl. Sebagian besar kawasan merupakan rangkaian gunung api, baik yang masih aktif maupun yang tidak dengan beberapa puncak diatas 2.500 mdpl. Puncak tertinggi adalah Gunung Kerinci (3.805 Mdpl) yang juga meruakan titik tertinggi di Pulau Sumatera.

Hidrologi

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan hulu-hulu air penting bagi DAS utama di Sumatera bagian tengah yaitu DAS Batang Hari (sub DAS Meragin, Tebo, Tabir, Sangir, DAS Musi (Sub DAS Rawas, Rupit, dan lakitan) dan pantai barat Pulau Sumatera (Sub DAS Manjuto, Ketahun, Ipuh, Seblat, Dikit dan Indrapura) yang memberikan kontribusi hydrologis dan ekologis bagi masyarakat, 10.000.000 Ha (Purnajaya;1991) sangat tergantung akan kelestarian TNKS, dalam meningkatkan dan mempertahankan Produksi Pertanian masyarakat disekitarnya yang merupakan sumber PDRB Kabupaten sekitar TNKS, bahkan pemanfaatan sumber air akan direncanakan dalam membangun PLTA.

Tipe Ekosistem

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan erwakilan ekosistem alami hutan tropis atau komunitas hutan yang memiliki kelimpahan jenis yang cukup besar. Keragaman dan kehidupan ini dipengaruhi faktor iklim, ketinggian, sumber daya alam hayati dan non hayati. Selain bernilai konservasi tinggi juga bernilai ekonomis, estetika, budaya dan ilmu pengetahuan. Dari segi konservasi kawasan ini cukup potensial sebagai daerah penyangga ekosistem TNKS atau sistem penyangga kehidupan. Menurut Laumonier (1994) tipe hutan TNKS dapat diklasifikasikan dalam beberapa tipe hutan berdasarkan elevasi dengan komposisi jenis vegetasi yang berubah sesuai dengan perubahan elevasi sebagai berikut:

  1. Hutan dataran rendah (150-200 Mdpl)
  2. Hutan Perbukitan (300-800 Mdpl)
  3. Hutan Sub-Montana (800-1400 Mdpl)
  4. Hutan montana rendah (1400-1900 Mdpl)
  5. Hutan Montana Tengah (1900 2400 Mdpl)
  6. Hutan montana atas (2400-2900 Mdpl)
  7. Hutan sub-alpine (di atas 2900 Mdpl)

Aksesibilitas

  1. Dari Padang terdapat dua jalan alternative menuju kawasan TNKS. Alternatif pertama yakni menyusuri pantai barat ke kota Painan untuk menuju kawasan TNKS yang ada di Painan. Dari Kota Painan dapat juga melanjutkan perjalanan melalui jalan lintas Sumatera Barat-Bengkulu sampai ke Tapan, kemudian berbelok ke arah Bukit Tapan melewati zona khusus TNKS menuju Kota Sungai Penuh. Selanjutnya dari Kota Sungai Penuh untuk menuju ke kawasan TNKS dapat ditempuh dalam waktu 1,5 – 2 jam ke arah Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh. Alternatif kedua adalah melalui jalan Alahan Panjang Muara Labuh, Kabupaten Solok Selatan, kemudian memotong kawasan TNKS di zona khusus pada daerah Letter W di Selatan Lubuk Gadang.
  2. Dari Jambi hanya satu jalan, yaitu melalui Muara Bulian, Sarolangun kemudian Bangko, dari Bangko terdapat dua jalur menuju kawasan TNKS yaitu menyusuri jalan lereng-lereng bukit untuk kawasan TNKS di Pangkalan Jambu, sampai Muara Imat dan memasuki Kerinci dari arah timur, dari jalan Bangko-Muara Imat terdapat pertigaan jalan kecilke arah selatan menuju kawasan TNKS di Jangkat dan lembah Sipurak Hook
  3. Dari Bengkulu untuk menuju kawasan TNKS yang terdekat adalah manuju curup. Dari Curup dapat menuju ke arah Lubuk Linggau untuk menuju kawasan TNKS di Rejang Lebong (Padang Ulak Tanding dan Bukit Kelam) dan kawasan TNKS di Lubuk Linggau dan Musi Rawas
  4. Dari Palembang akses terdekat ke kawasan adalah menuju kawasan TNKS di Lubuk Linggau dan Musi Rawas.

Potensi Flora

Di TNKS juga terdapat beberapa tumbuhan yang menuduki kategori langka dan unik antara lain:

  1. Tumbuhan khas yang ada di TNKS: Kayu Pacet (Harpulia arborea) yang berkembang mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.200 Mdpl
  2. Tumbuhan endemik yang ada di TNKS: Pinus merkusii strain kerinci (kayu sigi) yang hanya terdapat di TNKS wilayah Kerinci dengan penyebaran disekitar Bukit Tapan, Hutan Adat Hiang serta daerah Pungut.
  3. Dilindungi Undang-undang: Sebagai Kawasan konservasi semua flora yang ada di TNKS dilindungi undang-undang.

Potensi Fauna

Terdapat sekitar ±370 jenis burung dari 49 Famili. Dari 370 jenis tersebut terdapat beberapa kategori langka, endemik dan dilindungi. Terdapat pula 8 jenis primata terutama di hutan dataran rendah, perbukitan/pegunungan sampai Montana, selai primata juga terdapat mamalia yang termasuk langka dan spesifik. fauna kunci di TNKS adalah Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera.

Potensi Alam Wisata

Secara umum di TNKS terdapat beberapa kategori objek wisata alam diantaranya:

  1. Wisata Gunung: Karena kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat berada pada punggungan bukit barisan dan merupakan jalur guung api di sumatera maka lokasi memiliki gunung-gunung diantaranya Gunung Kerinci, Gunung Masurai, Gunung Seblat, Gunung Sumbing, Gunung Raya, Bukit Sulap dan beberapa pegunungan lainnya
  2. Wisata Danau: Wisata Danau juga merupakan wisata yang menarik dikunjungi di kawasan ini, beberapa danau yang terdapat dikawasan Taman Nasional Kerinci Seblat diantaranya Danau Gunung Tujuh, Danau Kaca, Danau Bukit Bontak dan beberapa Danau menarik lainnya.
  3. Wisata Air Terjun: Pegunungan Bukit Barisan dan kawasan dengan ketinggian yang bervariasi membuat dikawasan ini mempunyai banyak air terjun. Beberapa air terjun yang dijumpai dan memiliki akses yang deat antara lain Air Terjun Telun Berasap, Air terjun Pancaro Rayo, Air Terjun Lumpo dan beberapa Air Terjun menarik lainnya.
  4. Wisata Goa: Dikawasan ini juga ditemukan goa yang memiliki kekhasan tersendirim beberapa goa yang menarik diantaranya goa kasah, goa napan licin, goa bukit tapan.
  5. Wisata Rawa: Salah satu khas dari Taman Nasional Kerinci Seblat karena memiliki rawa di dataran tinggi.
  6. Wisata Minat Khusus: Dikatakan khusus karena wisata ini diperuntukan bagi orang-orang yang memiliki keahlian atau hobi khusus.

Zona Taman Nasional Kerinci Seblat

Zona Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.

Kawasan TNKS dikelola berdasarkan sistem zonasi yaitu pembagian kawasan kedalam beberapa zona sesuai dengan karakteristik dan peruntukannya. Zonasi TNKS telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jendral PHKA No.07/IV-KK/2007 tanggal 16 Januari 2007 yang terdiri dari beberapa zona yaitu:

  1. Zona Inti adalah bagian taman nasional yang kondisi alamnya masih asli dan atau belum terganggu, mutlak dilindungi untuk keterwakilan keragaman hayati khas.
  2. Zona Rimba adalah bagian taman nasional yang karena letak kondisi, dan potensinya mampu mendukung pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan
  3. Zona Pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya terutama dimanfaatkan untuk pariwisata alam dan jasa lingkungan lainnya.
  4. Zona Rehabilitasi adalah bagian taman nasional yang mengalami kerusakan yang disebabkan antara lain oleh perambahan, penebangan liar dan pembangunan jalan sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan
  5. Zona Khusus adalah bagian taman nasional karena kondisi alamnya tidak dapat dihindarkan dan/atau telah ada kelompok masyarakat dan sarana prasarana lainnya sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.
  6. Zona Tradisiooonal adalah bagian taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang mempunyai ketergantungan terhadap sumber daya alam.

Dengan mengikuti perkembangan zaman apada akhir 2013 zonasi TNKS sedang dievaluasi untuk direvisi sesuai dengan kondisi lapangan.

Sumber: Balai TNKS , 2013

One Response

  • […] Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya jenis harimau yang tersisa di Indonesia. Sebelumnya di Indonesia terdapat tiga jenis harimau diamana dua diantaranya harimau bali dan harimau jawa dinyatakan punah sekitar tahun 1940 dan 1980an. Salah satu penyebab kepunahan harimau ini adalah adanya perburuan secara besar-besaran pada masa penjajahan dan semakin menyempitnya hutan. Laju penurunan populasi harimau tersebut dipicu oleh faktor yang disebut “The Evil Quartet” yaitu degredasi dan fragmentasi habitat, konflik dengan manusia, ekploitasi sumber daya alam yang belebihan dan kepunahan eksponensial. Populasi harimau sumatera pada saat ini diperkirakan sekitar 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *