Kerinci Paradise > Article > Mengintip Habitat Harimau Sumatera

Mengintip Habitat Harimau Sumatera

harimau sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya jenis harimau yang tersisa di Indonesia. Sebelumnya di Indonesia terdapat tiga jenis harimau diamana dua diantaranya harimau bali dan harimau jawa dinyatakan punah sekitar tahun 1940 dan 1980an. Salah satu penyebab kepunahan harimau ini adalah adanya perburuan secara besar-besaran pada masa penjajahan dan semakin menyempitnya hutan. Laju penurunan populasi harimau tersebut dipicu oleh faktor yang disebut “The Evil Quartet” yaitu degredasi dan fragmentasi habitat, konflik dengan manusia, ekploitasi sumber daya alam yang belebihan dan kepunahan eksponensial. Populasi harimau sumatera pada saat ini diperkirakan sekitar 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional.

Ciri-ciri fisik Harimau Sumatera:

  • Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini.
  • Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg.
  • Warna kulit Harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

Nilai Penting Harimau Sumatera

Harimau sebagai salah satu satwa prioritas dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki nilai penting. Nilai penting tersebut yaitu dari sudut pandang ekologi, politik, hukum dan kebijakan, sosial budaya, ekonomi dan ilmu pengetahuan.

1. Aspek Ekologi

Harimau memiliki peranan penting dalam ekosistem sebagai regulator dan indikator. sebagai regulator biologi, keberadaan populasi harimau menjadi penting sebagai penyeimbang populasi satwa-satwa lain. harimau yang berada di puncak rantai makanan berperan mengontrol populasi satwa mangsa melalui interaksi pemangsaan. sebagai indikator biologi, keberadaan populasi harimau berfungsi sebagai penanda kehadiran satwa mangsa dan kualitas habitat. Harimau menjadi kualitas habitat untuk menjamin fungsi hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Selain indikator, harimau merupakan spesies payung karena memiliki daerah jelajah yang luas. Dengan kata lain, melindungi harimau dapat melindungi bentang alam serta keanekaragaman hayari di dalamnya

2. Aspek Hukum dan Kebijakan

Pelestarian harimau sumatera didukung kebijakan dan perlindungan hukum nasional dan internasional. Ditingkat nasional, harimau dilindungi dalam UU No. 5/1990 tentang Konsevasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No.41/1999 tentang Kehutanan, UU No.13/2014 tetang Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan Hutan serta merupakan salah satu dari 25 spesies prioritas.

3. Aspek Ilmu Pengetahuan, Sosial Budaya, dan ekonomi

Keberadaa harimau sumatera memiliki peranan khusus bagi para peneliti maupun masyarakat yang tinggal dikawasan hutan dalam aspek ilmu pengetahuan, sosial budaya dan ekonomi.

Dalam sudut pandang sosial budaya, harimau sumatera di berbagai daerah menempati kedudukan yang dihormati oleh masyarakat. Di Tanah Batak misalnya, harimau dipanggil dengan sebutan “Ompung” yang merupakan panggilan kepada seseorang yang dihormati. Lain lagi di Padang dan di Jambi, harimau dipanggil dengan sebutan “Datuak” yang biasa digunakan untuk menyebutkan tetua adat, “Inyiak” untuk menyebut orang yang dituakan dan dihormati, ataupun sebutan kehormatan lain seperti “Ampang Limo”. Masih banyak lagi kearifan lokal, kisah-kisah bijak, dan cerita rakyat yang menceritakan bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan harimau. Di daerah Sumatera Barat misalnya, masyarakat membagi waktu aktivitas mereka bersama harimau. Masyarakat mengakhiri aktivitas mereka sebelum pukul enam sore agar harimau dapat beraktivitas. Lain di Jambi, perempuan berambut panjang harus mengikat rambutnya jika memasuki hutan dan setiap orang tidak boleh mematahkan ranting pohon dengan lutut. Diberbagai daerah, cerita-cerita interaksi manusia dan harimau terus dipelihara turun-temurun yang secara tidak langsung berperan dalam pelestarian harimau.

Habitat Harimau Sumatera

Harimau sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Harimau sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Upaya Perlindungan Harimau Sumatera

Sebagai langkah awal dalam penyelamatan harimau dari kepunahan adalah dengan cara menyelamatkan habitatnya terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penghentian pembukaan hutan untuk lahan perkebunan sawit, berperang melawan illegal logging, reboisasi, membatasi jarak habitat orang utan dengan pemukiman penduduk dan menggalakkan gerakan tanam seribu pohon.

Mustahil kita melestarikan harimau tanpa melestarikan habitatnya, karena harimau adalah satwa liar yang suka hidup di alam bebas daripada di kebun binatang. Penelitian membuktikan harimau yang dikarantina umurnya lebih pendek dari harimau yang hidup di alam bebas. Jadi, rehabilitasi habitat harimau adalah harga mutlak dalam usaha pelestarian harimau.

Referensi:

https://www.wwf.or.id

https://id.wikipedia.org

Ebook  Konservasi Keanekaraman hayati

Gambar: https://www.suara.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *