Mencari Kesaktian Di Sakti Alam Kerinci

Nilai-nilai kearifan lokal terkandung dalam upacara. Mantra sarat petuah dan nasihat.
Petang merambati kediaman Bakhtiar Anip di Desa Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Jambi. Udara dingin. Gerimis yang jatuh dengan ritmis membuat suhu kian rendah.
Di lantai dua rumahnya, Pawang Mahligai Kaco berusia 67 tahun itu cuma bisa berbaring di kasur. Sudah empat bulan belakangan dia alpa menjalankan aktivitas rutin. Kondisi itu membelitnya usai mengalami kecelakaan motor pada bulan puasa.
“Tinggal bengkak di pergelangan kaki ini saja yang belum sembuh. Kalau tulang kering sudah mulai baikan,” kata sang sahibul bait ketika menerima Beritagar.id pada Selasa (3/10). Seiring berucap, dia berupaya bangkit dari ranjang dan membetulkan sarung di badan.
Efek insiden itu jelas: mobilitas Bakhtiar terhambat. Padahal, kegiatannya bersandar pada olah tubuh. Dia dikenal sebagai pawang beberapa ritus Suku Kerinci, Jambi. Salah satu wujud kreativitasnya adalah tari Mahligai Kaco, yang diambil dari ritus asyeik.
“Tradisi ini saya dapatkan secara turun temurun dari datuk dan orang tua,” ujarnya.
Selain mencipta tari itu, Bakhtiar menjadi pawang beberapa tari lain yang juga diadaptasi dari tradisi asyeik seperti Mandi Taman, Tolak Bela, Ayun Luci, Lukah Gilo, dan Ngulang Ngaso.
Asyeik, menurutnya, biasa dilakoni guna menguji kesaktian dan pengobatan. Ritus lazim dimulai setelah sang pawang menyiapkan sajen dan merapal mantra pada malam hari.
“Meminta kepada Tuhan melalui roh nenek moyang dengan perlengkapan sesajian,” katanya.
Pawang menyiapkan sajen berupa ayam, kain warna kuning, hitam dan putih, beras kunyit, serta bunga tujuh warna dan sembilan rupa. Selain itu, pawang juga menyiapkan keris, pedang, tombak, dan pecahan beling.
“Kain disiapkan lima hasta tanpa dijahit,” ujarnya. Panjang satu hasta–yakni ujung siku lengan sampai ujung jari tengah tangan pada lengan yang sama–setara dengan kira-kira 45 cm.
Akan hal penari yang akan melakukan ritus, mandi limau digelar sebagai bentuk penyucian diri.
“Mantra dibacakan, dan penari akan menari dengan khusyuk sesuai irama gendang. Setelah itu, mereka akan kebal dari senjata dan beling yang sudah disiapkan,” ujar Bakhtiar.
Meski sesungguhnya tak memiliki ilmu kebal, setiap penari yang sudah mengikuti ritus mandi limau bakal terjaga dari luka. “Pernah ada orang yang tidak ikut mandi limau tapi ikut menari dan mencoba bermain dengan api dan senjata. Akibatnya dia terluka,” katanya.
Sedangkan untuk pengobatan, lanjut Bakhtiar, penari sedia menjunjung mangkok tujuh tingkat di tengah ritus. Mangkok lantas akan meneteskan air atau minyak. Nantinya, tetesan akan diusap dengan kapas dan dicelupkan ke dalam air untuk diminum.
“Air biasanya untuk pengobatan, sedangkan minyak untuk pemanis atau penglaris,” ujarnya.
Bagi orang yang ingin beroleh kekebalan, Pawang akan melafalkan mantra dan memberikan mantra pendek yang siapa pun akan bisa menghafalnya. “Biasanya setelah diisi oleh pawang, orang itu akan kebal dan tubuhnya sudah ada isinya,” kata Bakhtiar.
Seturut pengakuannya, ritus seperti ini sudah dilakukan nenek moyang mereka di Kerinci. Namun, dulu ritus dimaksud tidak dijadikan seni pertunjukan. Pelaksanannya hanya mungkin pada saat-saat khusus. Sekarang, Mahligai sudah bisa dilihat siapa saja.
“Saya belajar menjadi Pawang karena keturunan datuk dan orang tua saya. Karena, menjadi pawang biasanya berdasarkan garis keturunan,” ujarnya.
Pertunjukan Mahligai Kaco telah ditampilkan ke beberapa negara. “Singapura, Malaysia dan Prancis. Kalau di Indonesia sudah ke banyak daerah,” katanya.
Ihwal uji kesaktian, Bakhtiar melakukannya ketika ada permintaan dari tokoh adat atau kepala daerah. “Mulai dari kepala desa, orang adat sampai bupati pernah meminta dimasukkan mantra untuk kesaktian tubuh,” ungkapnya.
Biasanya, setelah mantra dibacakan orang yang menjadi medium bakal dites menerima bacokan pedang, tusukan tombak dan keris, atau bahkan berjalan di atas beling.
Usai ritus, orang itu sudah memiliki kekebalan dan perisai tubuh. “Ritual ini dilakukan sambil menari mengikuti iringan gendang,” katanya.
Namun, Bakhtiar meresahkan kondisi saat ini yang kemungkinan bakal berujung kepunahan kekayaan seni tradisi dimaksud. Pasalnya, tidak banyak lagi orang yang mau mempelajarinya. Padahal, dulu hampir tiap rumah ada orang yang bisa melakukan ritus tersebut.
“Orang tua sudah banyak yang meninggal, dan yang yang muda tidak mau belajar. Jadi tinggal beberapa orang saja yang bisa menjadi Pawang untuk melakukan ritual asyeik sebagai dasar ritual lainnya,” ujarnya.
Dia sebenarnya tak menolak jika ritus ini menjadi seni pertunjukan. Namun, dia berharap kreasi berbentuk tari itu tetap berakar pada tradisi. “Tetap harus mengetahui bagaimana akar tradisi itu dilakukan. Sehingga, tari kreasi yang dibuat tidak menghilangkan dasar dari tari kreasi itu sendiri,” katanya.
Meski menghadapi aral, Bakhtiar tidak patah arang. Masih ada anak-anak muda yang mulai belajar Mahligai Kaco meski jumlahnya tak banyak. “Ada juga yang belajar untuk mendapatkan kesaktian seperti kebal ketika ingin merantau atau mau menjadi polisi atau tentara,” ujarnya.
Sejauh ini, dia bilang, ritus yang dipratikkannya telah menjadi objek penelitian dari dalam dan luar negeri. Beberapa kali ada peneliti menyambangi Bakhtiar untuk mencari tahu cara melakukan ritus sekaligus kegunaannya. “Semoga seni tradisi ini tidak cepat hilang dan tetap ada di tengah masyarakat kita,” katanya.
Di sisi lain, pengamat budaya Jambi, Jafar Rassuh, mengatakan ritus Mahligai Kaco merupakan satu kekayaan tradisi dan budaya di Jambi yang masih terawat di tempat asalnya. Meski tidak banyak lagi pelakunya, tapi tidak sulit mencari dan menemukan orang yang bisa menjalani ritus yang menggambarkan budaya Melayu Tua atau Melayu Proto itu.
“Kalau dulu memang dilakukan untuk menguji kesaktian pemimpin. Karena pemimpin itu harus menjadi panutan. Harus teruji lahir dan batin,” kata Jafar saat ditemui di Taman Budaya Jambi, Minggu (8/10).
Seorang pemimpin dinyatakan lulus jika kulitnya kebal pedang, tombak, keris dan pecahan kaca. Apalagi kalau ia sanggup meringankan tubuh. “Ritual ini sudah ada di Kerinci sejak berabad-abad yang lalu,” katanya.
Walau keberadaannya hampir merata di Kerinci, pertahanan ritus Mahligai Kaco ada di daerah Siulak. Tapi, ujarnya, “gerakan sekarang dalam bentuk tarian sudah hasil koreografi. Gerakan tari iyo-iyo, gerakan tari di Kerinci”.
Peninggalan Zaman Perunggu
Mahligai Kaco merupakan sebuah penyebutan atas penciptaan seni pertunjukan seniman Kerinci, begitu pendapat Ali Surakhman, direktur lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang budaya, For The Culture of Kerinci. Menurutnya, beberapa bentuk seni pertunjukan yang diambil dari ritus asyeik memiliki kemiripan penampilan meski beda pelabelan.
Tradisi asyeik, ujarnya, telah ada sejak Kebudayaan Dongson, yaitu kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. “Budaya Dongson sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan budaya perunggu di Indonesia, termasuk Kerinci,” katanya.
Permulaan tradisi lisan dalam ritus asyeik Kerinci berbarengan dengan penyebaran bangsa Austronesia (Melayu Tua) yang berlangsung pada zaman prasejarah (10.000-2.000 tahun Sebelum Masehi). Buktinya, penemuan perkakas Neolitikum.
“Alat-alat prahistoria yang sangat tua dan unik itu salah satunya ditemukan di dataran tinggi daerah Kerinci,” kata Ali kepada Beritagar.id di Jambi, Selasa, (10/10).
Ali mengatakan, khusus perihal alat serpihan batu obsidian, daerah Kerinci disebut menjadi inti dari kebudayaan alat serpih yang termasuk ke dalam zaman Mesolitikum. Peninggalan dari masa prasejarah di Kerinci yang sejenis menhir batu menunjukkan keunikan karena berbentuk silindris dan posisinya menggeletak di permukaan tanah.
“Posisi semacam ini belum pernah ditemukan pada daerah lainnya di Indonesia. Keadaan silindrik di Kerinci merupakan penyimpangan dari tradisi umum megalitik di Indonesia,” ujarnya.
Batu silindris yang ada di Kerinci berjumlah tujuh buah. Relief yang menghiasinya beragam: manusia kangkang, matahari, lingkaran aura, untuk menyebut beberapa.
Namun, ada pula batu polos tanpa motif yang berasal dari masa 12.000 tahun Sebelum Masehi. “Motif ini berhubungan erat dengan bentuk tarian dan alat yang digunakan pada upacara ritual asyeik,” katanya.
Penggalian arkeologis di Kerinci menunjukan, tradisi lisan dalam ritus asyeik sudah ada sejak zaman ketika manusia belum mengenal tulisan (pra-aksara). “Ditandai dengan belum ditemukannya keterangan tertulis mengenai kehidupan manusia,” ujarnya.
Dalam hematnya pula, asyeik mengandung unsur kerohanian. “Tari asyeik ini lebih tepat dikatakan upacara ritual asyeik karena merupakan persembahan dengan menggunakan sesajian. Sedangkan mantra yang dilakukan berirama beserta dengan gerak-gerik, dan dilakukan dengan sangat sederhana, tapi penuh dengan penghayatan, yang dihubungkan dengan arti mantra yang diucapkan,” katanya.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan masuknya Islam ke daerah Kerinci, upacara ini berasimilasi dengan kebudayaan Islam. Karena itu, dalam mantra-mantra dimasukkan pula nama-nama Nabi serta para sahabatnya.
Adapun maksud dan tujuan, Ali mengatakan asyeik mengakomodasi beberapa. Contohnya, ada upacara meminta kesuburan tanah, membuka lahan baru pertanian, mengharapkan keselamatan panen, meminta obat, meminta anak (bagi pasangan suami istri yang sudah lama menikah, namun belum dikaruniai anak).
Di luar itu, upacara asyeik juga dilakukan untuk meminta ilmu, menolak bala, dan melindungi negeri dari bencana alam. “Mahligai Kaco merupakan salah satu bentuk dari ritual asyeik untuk kesaktian,” ujarnya.
Demi melindungi ritus asyeik dari kepunahan, seniman suku Kerinci pada 1960-an mencoba menggarap tari asyeik menjadi seni pertunjukan.
“Hasil yang mereka capai sangat jauh berbeda. Meskipun tari tersebut bisa diangkat ke atas pentas, tapi ia tetap kehilangan keakraban. Karena tarian ini adalah upacara ritual yang bersifat spontan dan tidak bisa dilepaskan dari suasana alam Kerinci,” katanya.
Masalahnya, nilai-nilai kearifan lokal terkandung dalam upacara asyeik. Mantranya sarat akan petuah dan nasihat untuk menjaga alam semesta, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memungkinkan kesejahteraan bagi manusia lain.
“Ritual asyeik merupakan produk masa pra-aksara dari zaman Neolitikum. Ini membuktikan di dataran tinggi pelosok pulau Sumatera sekian ratus tahun lalu sudah lahir tradisi lisan dalam bentuk upacara ritual serta sudah berkembang peradaban dan kebudayaan awal,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *